A.
Pengantar
Perkembangan
anak mulai dari lahir hingga dewasa melalui tahap yang sebenarnya sudah dapat
diperkirakan. Perkembangan ini tidak hanya terjadi pada perkembangan biologis, sosial,
dan psikomotor saja, tetapi juga diiringi perkembangan kognitif yang menyangkut
bahasanya. Seiring bertambahnya usia, anak akan memperoleh bunyi-bunyi berupa
kata-kata dari orang tua dan orang di sekitarnya.
Pemerolehan
bahasa memiliki suatu permulaan gradual yang muncul dari prestasi-prestasi
motor, sosial, dan kognitif pralinguistik. Anak-anak memperlihatkan suatu
keseragaman atau uniformitas dalam perkembangan linguistik mereka, yang melalui
sejumlah tahap pada usia-usia yang dapat diramalkan, dan urutan tempat mereka
memperoleh beraneka ragam struktur dan fungsi bahasa yang tersusun rapi dan
tetap. Walaupun sudah dimiliki sejak lahir, pemerolehan bahasa juga harus
dipelajari. Hal ini disebabkan pemerolehan bahasa anak mempunyai ciri
kesinambungan, memiliki rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan kata
sederhana menuju gabungan yang lebih rumit (sintaksis).
B.
Siasat
Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan
bahasa anak memang akan hadir dengan sendirinya, Di sisi lain, mereka juga akan
belajar memahami semantik, sintaksis dan fonologi bahasa dari orang tua dan orang
di sekitarnya. Maka dari itu, orang tua atau orang dewasa lainnya haruslah
memiliki siasat agar anak dapat memperoleh bahasanya dengan baik. Bagaimana
anak memperoleh bahasanya sebenarnya mempunyai cara tersendiri yang harus
diketahui dan diterapkan oleh orang dewasa terhadap anak. Orang tua, orang di
sekitar anak, lingkungan, dan situasi juga memegang peranan penting dalam
pemerolehan bahasa anak.
Ada
beberapa cara atau siasat pemerolehan bahasa anak dalam membangun bahasa secara
kreatif, yaitu:
1.
Gunakanlah
pemahaman nonlinguistik Anda sebagai dasar penetapan atau pemikiran bahasa.
2.
Gunakan
apa saja atau segala sesuatu yang penting, yang menonjol dan menarik hati Anda.
3. Anggaplah
bahwa bahasa dipakai secara referensial atau ekspresif dan dengan demikian
menggunakan data bahasa.
4.
Amatilah
bagaimana cara orang lain mengekspresikan makna.
5.
Ajukanlah
pertanyaan-pertanyaan untuk memancing atau memperoleh data yang Anda inginkan.
6.
Tirulah
apa yang dikatakan orang lain.
7.
Gunakan
beberapa prinsip operasi umum buat memikirkan serta menerapkan bahasa
8.
Buatlah
sebanyak mungkin dari yang telah Anda miliki atau Anda peroleh.
9.
Hasilkanlah
bahasa dan lihatlah bagaimana orang lain memberi responsi.
C.
Studi
Kasus Siasat Pemerolehan Bahasa Anak
Penulis
mengamati pemerolehan bahasa anak penulis yang saat ini berusia sembilan belas bulan
bernama Fatih Jehan Siddiq. Sering dipanggil dengan nama Fatih. Kesehariannya
berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Fatih tinggal bersama nenek dan kakeknya
yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia kepada Fatih.
Dalam
kasus ini, penulis sebagai mama bersuku batak toba yang sehari-hari menggunakan
bahasa Indonesia, papa bersuku minang yang sehari-hari berbahasa Indonesia
dengan mama dan menggunakan bahasa minang dan bahasa Indonesia kepada orang
tuanya (nenek dan kakek), fatih dibiasakan berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia.
Di
usianya yang belum dua tahun, Fatih sudah aktif mengoceh dan berkata-kata walau
masih sepenggal kata atau belum sempurna. Hobi barunya ini, membeo perkataan
orang dewasa, menjadi daya tariknya untuk berkomunikasi. Melalui gerak dan
penggalan kata, ia mampu mengungkapkan perasaannya dan mampu dipahami oleh
orang dewasa.
Untuk
memperlacar pemerolehan bahasanya, kami sebagai orang tua dan kakek-neneknya
menerapkan siasat pemerolehan bahasa kepada Fatih. Hal ini setelah diobservasi dari
kebiasaan-kebiasaannya mengungkapkan perasaan. Adapun siasat pemerolehan bahasa
yang diterapkan dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1.
Gunakanlah
pemahaman nonlinguistik Anda sebagai dasar penetapan atau pemikiran bahasa.
Fatih sering kali merengek minta
diajak jalan-jalan mengitari komplek setiap pagi sambil sarapan. Kebiasaan sang
nenek sebelum membawanya keluar adalah memakai jilbab terlebih dahulu. Oleh
karena itu, apabila Fatih ingin keluar bersama neneknya, ia langsung menuju
tempat di mana sang nenek sering menggantungkan jilbab dan menyuruh sang nenek
memakai jilbab tersebut. Kebiasaan ini termasuk pemahaman nonlinguistik yang
sebenarnya dapat menggantikan kata-kata "pakai jilbab nenek biar kita
jalan-jalan". Ia sudah memahami bahwa kebiasaan sang nenek apabila hendak
keluar rumah harus memakai jilbab. Sang nenek pun sering mengatakan,
"Tunggu dulu nenek pakai jilbab", sambil mengarahkan jilbab ke arah
Fatih. Nah, di sinilah ia memperoleh pemahaman bahwa yang dipegang neneknya
dinamakan jilbab dan digunakan jika hendak ke luar rumah.
2.
Gunakan
apa saja atau segala sesuatu yang penting, yang menonjol dan menarik hati Anda.
Kegiatan yang saat ini sedang
menonjol pada Fatih adalah berada di dalam mobil atau jalan-jalan dengan mobil.
Setiap kali ia teringat akan mobil, ia minta naik ke mobil sambil berkata,
"'ik bem" (berarti naik bem menyebut naik mobil). Tetapi dia akan
mengatakan," 'ci bil" (berarti ambil kunci mobil). Fatih sudah
membedakan 'bem dan mobil'. Saat mamanya mengatakan "bukan bem,
mobil", ia pun membeo dengan mengulang ujaran "mobil". Setelah
berada di belakang stir mobil, Fatih selalu menyuarakan "bem" sebagai
isyarat bahwa bunyi mobil adalah bem.
Kebiasaan di atas merupakan ciri
menonjol yang kerap kali muncul dan menghasilkan perkembangan kosa kata Fatih.
Objek yang sekarang ini membuat Fatih
aktif dan giat adalah kunci mobil, objek yang bergerak dan berubah adalah
mobil, sedangkan ciri perceptual atau titik fokal bagi Fatih adalah menyuarakan
bunyi mobil dengan "bem" dan dapat mengetahui apabila ada benda
menyerupai bentuk mobil, ia akan mengatakan bahwa itu adalah mobil.
3.
Anggaplah
bahwa bahasa dipakai secara referensial atau ekspresif dan dengan demikian
menggunakan data bahasa.
Setelah melakukan observasi, Fatih
lebih banyak mengungkapkan kata-katanya dalam cakupan proporsi nomina umum yang
tinggi. Kata-kata yang diujarkannya seperti mama, papa, uci, nambo, nenek,
kakek, mobil, sepatu, kunci, sepeda,
meja, pintu, abang, ayam, kucing, kuda, topi, baju, celana, dan banyak lagi
yang lain. Sementara itu, kata-kata yang mencakup ekpresi-ekspresi sosial masih
sedikit, seperti jangan, gak mau, mau, ikut, minta, uda, belum, dan beberapa
lainnya. Dalam hal ini, Fatih tergolong anak kelompok referensial.
4.
Amatilah
bagaimana cara orang lain mengekspresikan makna.
Saat Fatih melihat papanya sedang
makan, dia merasa apa yang dimakan papanya enak, awalnya ia hanya memandang dan
kemudian mendekat. Fatih melihat apa yang sedang dimakan papanya kemudian
diambilnya sendiri makanan itu dari piring papa. Dari kegiatan verbal itu, ia
seakan mengatakan bahwa ia juga ingin mencicipi makan yang dimakan papanya.
Nah, sang papa pun akan menanyakan "fatih mau?". Jika ia selera,
Fatih akan menjawab "mau", namun jika tidak, ia akan menjawab
"gak" dan pergi.
5.
Ajukanlah
pertanyaan-pertanyaan untuk memancing atau memperoleh data yang Anda inginkan.
Di usianya yang masih sebilan belas
bulan, rasa ingin tahu Fatih tergolong tinggi. Ia sering menanyakan nama-nama
dari apa yang dilihatnya. Misalnya, saat di dalam mobil, ia menunjuk spidometer
dan berkata, "Ni 'pa?", menunjuk stir, "'ni?", menunjuk
jok, "ni?", dan semua akan dia tunjuk seraya berkata "ni, ni,
ni, ni". Dia juga sudah mengenal nama-nama anggota tubuhnya dan anggota
tubuh orang lain. Saat mama menyentuh hidung Fatih sambil bertanya, "Ini
apa?" dia akan menjawab "idun". Fatih juga bisa membedakan yang
mana hidung, mata rambut, pipi, tangan kanan, tangan kiri, kaki, dan anggota
tubuh lainnya. Dia juga dapat membedakan kepemilikan, hidung mama, mata papa,
tangan Fatih, dan lainnya. Semua berawal dari pertanyaan-pertanyaan "pa
ni?, ni?, ni?, ni?"
6.
Tirulah
apa yang dikatakan orang lain.
Hobi membeonya saat ini menjadi daya
tarik orang di sekitar dan bagi Fatih sendiri. Apa yang diujarkan orang di
sekitarnya akan ditiru. Saat papanya berbicara dengan mama, "Ada
lima",
Fatih pun dengan cepat membeo
berkata, " lima ".
Serta merta mama langsung mengajak
berkomunikasi, " Apanya yang lima?"
Fatih :
" lima "
Mama :"
kue"
Fatih :"kue"
Mama :"
kue coklat"
Fatih :"lat"
Mama :"coklat"
Fatih :"cok-lat"
7.
Gunakan
beberapa prinsip operasi umum buat memikirkan serta menerapkan bahasa.
Fatih termasuk anak yang aktif. Dia
tidak pernah duduk tenang dalam waktu yang lama. Paling lama ia duduk hanya
tiga menit. Ia lebih sering mengekpresikan apa yang ingin dilakukannya. Saat ia
ingin main dengan sepedanya, ia akan berkata,"'ik da" sambil menunjuk
sepeda. Orang sekitarnya pun tanggap tetapi dengan segera memperbaiki bahasa
Fatih, "Fatih mau naik sepeda?".
Fatih :"ik
da"
Mama :"naik"
Fatih :"'aik"
Mama :"se-"
Fatih :"se-"
Mama :"peda"
Fatih :"eda"
dan segera menaikkannya ke atas
sepeda. Ia pun mulai pengayuh sepeda dengan kaki kirinya ke lantai dan kaki
kanannya menggantung. Kakinya belum dapat emnyentuh pedal sepeda.
8.
Buatlah
sebanyak mungkin dari yang telah Anda miliki atau Anda peroleh.
Fatih
sering berbuat sesuatu untuk mengekspresikan keinginannya. Apabila ia
ingin digendong, tangannya dijulurkannya ke arah orang yang diharapkan
menggendongnya sambil berujar, "don" (berarti Fatih ingin digendong,
Fatih belum bisa mengujarkan 'ng'). Sebelum orang yang diharapkan
menggendongnya, ia akan terus merengek minta digendong.
Saat Fatih mengujarkan kata kunci,
ada banyak pengertian yang harus dipahami oleh orang dewasa, seperti:
"kunci!" (berarti ambilkan
kunci mobil)
"kunci?" (berarti dimana
kuncinya?)
"kunci" (berarti tolong
simpan kunci ini)
"kunci?"(berarti kunci
apa?)
9.
Hasilkanlah
bahasa dan lihatlah bagaimana orang lain memberi responsi.
Fatih sudah dapat merespon atau
memberi umpan balik terhadap pembicaraannya bersama orang disekitarnya. Walau
ia belum paham betul apa makna yang diucapkannya, namun tindakan merespon ini
merupakan perkembangan pemerolehan bahasanya yang baik. Ia dapat mengikuti dan
merespon pembicaraan yang panjang, misalnya:
Sambil memegang handphone, ia
berujar, "pon!"
Mama :"
Fatih mau nelpon?"
Fatih :"Pon"
Mama :"fatih
mau nelpon siapa?"
Fatih :"Pon
nenek!"
Mama :"Fatih
mau nelpon nenek? Tunggu ya!"
Fatih :"'lo!"
(berarti halo)
Nenek :"Halo
Fatih. Assalamu'alaikum"
Fatih :"Lam"
(berarti wa'alaikum salam)
Nenek :"Fatih
udah makan?"
Fatih :"dah"
Nenek :"udah
minum susu?"
Fatih :"dah"
Nenek :"berapa
kali uda minum susu?"
Fatih :"dah"
Nenek :"coba
hitung dulu!"
Mama :"Nenek
suruh itung. Satu, …"
Fatih :"wa,
ga, pat, lima, enam, juh, pan, lan, loh. Hore…"
Nenek :"pintar"
Fatih :"'tar"
(berarti pintar)
Nenek :"Siapa
yang pintah?"
Fatih :"Tih"
(berarti Fatih)
Kegiatan merespon atau melakukan
umpan balik ini dapat berlangsung terus hingga ia jenuh dan mengalihkan
perhatian pada objek lain.
D.
Penutup
Jika ditilik dari sembilan siasat pemerolehan
bahasa menurut Nelson (dalam Tarigan, 1988: 7 – 12), Fatih, anak penulis yang
masih berusia sembilan belas bulan sudah mempunyai siasat dalam upayanya
memperoleh bahasa. Kesembilan siasat tersebut dipenuhinya sehingga ia dapat
cepat memperoleh bahasa. Tindak tanduknya cekatan dalam pemikiran-pemikiran yang
sederhana. Ia juga termasuk anak yang aktif karena segala gerak-geriknya
diiringi kosa kata yang tidak sedikit dan terkadang menghasilkan berbagai
penafsiran.
Dari studi kasus di atas, dapat kita simpulkan bahwa
pemerolehan bahasa anak juga melalui siasat yang sebenarnya orang dewasa dapat
mengarahkan anak sehingga ia dapat dengan mudah memperoleh bahasa. Orang dewasa
dapat memberikan umpan balik dari komunikasi yang dibangun bersama anak sehingga
tercipta komunikasi yang panjang dan terarah. Dengan demikian orang dewasa dapt
memperbaiki dan mengajarkan pemerolehan bahasa kepada sang anak. Siasat
tersebut dapat berbeda-beda wujud tindakannya. Setiap anak memiliki kelompok
dan kebiasaan yang berbeda dalam memperoleh bahasa sesuai cara bejalarnya
masing-masing.